• Sejarah Al-Irsyadiyah

    Yayasan Al-Irsyadiyah yang didirikan di Jakarta pada tanggal 24 Januari tahun 1990 bertujuan untuk turut serta membantu program pemerintah dalam pembangunan, khususnya di bidang pendidikan.

  • Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Irsyadiyah

    Dengan keunggulan bidang tahfidz, diharapkan lulusan MI Al-Irsyadiyah minimal dapat menghafal juz 30 dan surat-surat pilihan. MI Al-Irsyadiyah saat ini memiliki enam ruang belajar, sarana olah raga, dan masjid.

  • Madrasah Tsanawiyah (MTS) Al-Irsyadiyah

    Saat ini memiliki lima ruang kelas, laboratorium komputer, sarana olah raga, dan masjid. Keunggulan MTS Al-Irsyadiyah diharapkan lulusannya dapat menghafal juz 30, juz 1, dan surat-surat pilihan seperti: Yaasin, Al-Waqiah, Al-Mulk.

  • Madrasah Aliyah (MA) Al-Irsyadiyah

    Saat ini memiliki empat ruang kelas, laboratorium komputer, sarana olahraga, dan masjid. Keunggulan MA Al-Irsyadiyah diharapkan lulusannya dapat menghafal Juz 1, Juz 2, serta surat-surat pilihan seperti: Yaasin, Al-Waqiah, Al-Mulk, dan Al-Kahfi.

  • Staf Pengajar Al-Irsyadiyah

    Staf pengajar yang direkrut oleh Yayasan Al-Irsyadiyah adalah guru-guru profesional yang ahli di bidangnya masing-masing.

UPACARA KEMERDEKAAN RI KE 74


 Upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 dilaksanakan Pondok Pesantren Al Irsyadiyah Desa Cibeuteung Udik Kecamatan Ciseeng Kabupaten Bogor dengan pembina upacara Dr.KHM Abduh Almanar, MAg. 

 Dalam Kesempatan acara tersebut Pembina Upacara menyampaikan amanatnya bahwa kita sebagai bangsa besar harus menghargai para para pahlawan bangsa yang telah mengabdikan diri mereka untuk perjuangan. Mari kite meneruskan semangat juang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan demi Indonesia unggul di masa mendatang. 

    Acara di hadiri para Kepala Sekolah, Dewan Guru dan para santri paud, MI, MTs dan MA Al Irsyadiyah. Acara dimulai jam 7.45 s.d. 8.45. Selain itu acara dimeriahkan dengan atraksi paskibra Al Irsyadiyah.
Share:

PENGUKUHAN PASKIBRA AL IRSYADIYAH 2019

     Ada pesan para ulama kita bahwa hubbul wathan minal iman [ cinta tanah air bagian dari iman]. Sungguh serius para ulama Indonesia dalam rangka menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Oleh karena itu, Pengurus Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah Bogor juga ingin berpartisipasi dalam upaya cinta tanah air karakter kebangsaan kepada para santri/pelajar yang ada di lingkungan Al-Irsyadiyah seperti PAUD, MI, MTs, dan MA agar mereka juga mengamalkan pesan para ulama untuk mencintai bangsa dan negera Indonesia ini.
    Diantara kegiatan menanamkan karakter cinta tanah air adalah pelatihan PASKIBRA (Pasukan Pengibar Bendera]. Pada tanggal 15 Agustus 2019 bertepatan pada hari Kamis dilaksanakan Pengukuhan PASKIBRA 2019 yang bertugas mengibarkan Bendera Merah Putih pada tanggal 17 Agustus 2019. Pengukuhan tersebut dihadiri para Kepala Sekolah : MI (Maghfiroh, SPdI, MTs (Ir.Hj. Endang Kuswinarni, dan MA Al-Irsysadiyah (Ahmad Satiri, SPdI), Dewan Guru serta para santri/pelajar semua tingkatan. Acara tersebut berlangsung di halaman sekolah, acara berjalan dengan tertib dan lancar.





                
Share:

GERAKAN PRAMUKA AL-IRSYADIYAH 2019


A. Latarbelakang
     Pramuka adalah salah satu materi dan kegiatan yang wajib di berikan kepada perseta didik pada kurikulum 2013 ini. Pramuka juga merupakan pendidikan karakter  yang baik mengenai kemandirian,kemampuan, dan kedispilinan peserta.
   Terlebih pada sangga penegak bagi peserta didik jenjang MA. Dimana seluruh kegiatan keperamukaan diselanggarakan pesertadidik sendiri secara mandiri. Penegak memang di haruskan supaya terbiasa mandiri. Untuk itu diperlukan pelatihan tertentu agar peserta didik ini mampu dan cakap dalam hal tersebut.
     Salah satu contoh kegiatan pramuka yang dilakukan secara mandiri adalah mengenai latihan baris - berbaris, pembelajaran kode-kode pramuka seperti sandi, pluit, morse, sandi rumput, dan lain lain,tali-menali,  serta yel-yel yang berkaitan pramuka.
    Bedasarkan latar belakang di atas, gerakan pramuka Gudep 09.133.09.134 yang berpangkalan di lapangan Al-Irsyadiyah mengadakan kegiatan pramuka.

B. Nama Kegiatan
Kegiatan ini dinamakan “ Perayaan Hari Pramuka”

C. Tema Kegiatan
Kegiatan perayaan hari pramuka mengambil dan tema “mandiri disiplin dan kerukunan antar sesame dan tercermin dalam kegiatan pramuka pramuka”.

D. Waktu dan Tempat
       1.  Kegiatan dilaksanakan  pada:
            Hari        : Rabu
            Tanggal : 14 Agustus 2019
       2.  Kegiatan dilaksanakan di lapangan Al-Irsyadiyah

E.Tujuan Kegiatan
1.            Pembekalan materi, pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan di bidang kepramukaan dan kepemimpinan kepada anggota gerakan gudep depan Al -  Irsyadiyah.
2.            Melatih kemandirian dan kedisplinan peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan sehari - hari.
3.            Menumbuhkan kekompakan, kerukunan, keakraban dan silaturahmi antar peserta didik dari jenjang MI, MTS, sampai MA Al-Irsyadiyah.

F. Bentuk dan Jenis Kegiatan
                Kegiatan yang berbentuk perayaan hari pramuka mempunyai empat acara pokok yaitu :
1.            Ujian Syarat – syarat Kecakapan Umum ( SKU ) bagi yang belum menyelesaikan.
2.            Pelantikan
3.            Pemantapan materi
4.            Renungan
Kegiatan – kegiatan dalam perkemahan meliputi kategori sebagai berikut :
1.            Kegiatan umum, Meliputi:
a. Upacara pembukaan dan penutupan
b. Pembekalan materi
2.            Kegiatan pendidikan dan seni budaya, meliputi:
a. Pentas seni penegak
b. Kreatifitas Yel regu
3.            Kegiatan scouting skill, meliputi :
a. Pendirian dan pembubaran tenda
b. Tali - temali
c. Baris - berbaris
d. Pengetahuan keperamukaan
4.            Kegiataan pertualangan, meliputi :
5.            a. Jelajah alam

G. Peserta Kegiatan
Peserta kegiatan antara lain adalah siswa-siswi yayasan MI, MTS, MA Al-irsyadiyah.

H. Struktur Kepanitiaan
Pelindung                       : Ka. Dr. KHM. Abduh Almanar MAg
Penanggung jawab         : Ka. Magfiroh S.pd.I, Ka. Ir.Hj. Endang Kuswirnani, Ka. Ahmad Satiri SPd
Pembina                         : KA. Muhammad Wahyu Aldirin
Pendamping                   : KA. Ika
Ketua panitia                  : KA. Nur Hamid
Sektretaris                       : KA. Rahma Pratiwi
Konsumsi                        : KA. Yanah & KA. Dita
Kesehatan                       : KA. Farhan & KA. Amal
Keamanan                       : KA. Lala, KA. Ira, KA. Rouf






Share:

PERJUANGAN DAN PENGORBANAN


الله أكبر 3 x الله أكبر 3 x الله أكبر 3 
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ هُوَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ اَمَاتَ وَ اَحْيَى.  اَلْحَمْدُ للهِ الًّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَ نَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى.
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ لَنَا عِيْدَ الْفِطْرِ وَ اْلأَضْحَى.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ  نِعْمَ الْوَكِيل وَنِعْمَ الْمَوْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَ مَنْ يُنْكرْهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا.
وَ صَلَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَ حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى، نَبِيِّ الْهُدَى، الَّذِيْ لاَ يَنْطِقُ عَنْ الْهَوَى، إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى، وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدقِ وَ الْوَفَا.
 اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَنْ اِتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الْجَزَا.
أَمَّا بَعْدُ:
فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوااللَه فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى.
الله أكبر 3 x  و لله الحمد
Saudara-saudaraku sekalian, Jamaah Idul Adha yang Allah muliakan.

Sepanjang malam tadi, hingga pagi ini, tak henti lisan kita menggemakan takbir. Tak putus menyuarakan tahmid. Tak jeda melantunkan tasbih. Tak bosan menyerukan kalimat tahlil. Semua itu kita lakukan dengan penuh kekhusyukan, ketawaduan dan ketundukan. Di hadapan Allah, Zat Yang Mahaagung.

Saudara-saudaraku sekalian, Jamaah Idul Adha yang Allah muliakan.

Hari Raya idealnya adalah hari sukacita. Idul Kurban sejatinya adalah hari kegembiraan. Namun sayang, bagi sebagian umat Islam, sukacita itu masih terkubur oleh dukacita. Kegembiraan masih tertutupi oleh kabut kesengsaraan. Perayaan Hari Raya Kurban mesih diselimuti oleh ragam penderitaan.

Pandanglah sejenak ke berbagai negeri nun jauh di sana: Palestina masih terus dirundung duka. Puluhan tahun tersiksa dicengkeram Zionis sang durjana. Rohingnya masih amat menderita. Terus menjadi mangsa rezim Budha yang hina. Mereka makin tak berdaya. Setiap saat harus siap meregang nyawa. Uighur masih tersungkur. Dipenjara dan terus disiksa. Oleh rezim komunis Cina yang kejamnya tiada tara. Suriah masih terluka parah. Menjadi korban kebiadaban rezim haus darah. Sekaligus menjadi rebutan negara-negara kafir penjajah.

Di belahan bumi yang lain, termasuk di negeri ini, kaum Muslim masih tetap terpinggirkan. Masih menjadi korban ketidakadilan. Sekaligus tumbal kebencian para pembenci Islam. Isu radikalisme terus digaungkan. Sama dengan isu terorisme sebelumnya. Yang mulai terkuak kedoknya. Nyata penuh dusta. Penuh rekayasa. Hanya jadi alat untuk terus menistakan kaum Muslim di seluruh dunia. Termasuk di Bumi Nusantara.

Lihatlah, hanya berbekal stempel radikal, siapa saja yang menyerukan syariah kaffah dengan mudah dituding anti Pancasila. Hanya berbekal cap radikal, siapa saja yang menyerukan Khilafah dengan gampang dituduh anti-NKRI dan memecah-belah. Hanya dengan tudingan radikal, siapa saja yang kritis terhadap kezaliman penguasa, dengan enteng didakwa mengancam negara.

Yang makin mengiris hati, kaum sekular radikal yang pengidap islamophobia makin berani tampil ke permukaan. Ajaran Islam mulai banyak dipersoalkan. Simbol-simbolnya mulai sering dipermasalahkan. Justru oleh mereka yang mengaku Muslim toleran. Jilbab dan busana Muslimah, fenomena artis berhijrah, isu syariah dan khilafah, hingga pengibaran Liwa dan Rayah seolah makin  membuat mereka gerah.

Di sisi lain, ragam krisis terus melanda negeri ini. Khususnya krisis ekonomi, yang makin tak terkendali. Kemiskinan tak pernah beranjak pergi. Angka pengangguran makin tinggi. PHK terjadi di sana-sini. Utang luar negeri makin menjadi-jadi. Banyak BUMN terus merugi. Negeri ini pun seolah tak pernah bisa lepas dari jeratan kasus korupsi. Terutama yang melibatkan para pejabat tinggi. Saat yang sama, perusahaan-perusahaan asing terus dibiarkan menjarah kekayaan alam negeri ini. Ironisnya, semua itu terjadi, justru saat para pejabat dan sebagian kita lantang berteriak, “NKRI Harga Mati”! Seraya tetap setia menerapkan sistem demokrasi. Yang sudah terbukti berkali-kali. Gagal memakmurkan dan mensejahterakan rakyat negeri ini.

Singkatnya, di tengah Perayaan Hari Raya Idul Adha ini, umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk di Bumi Nusantara, sesungguhnya masih berduka. Masih ditimpa berbagai nestapa. Seolah tak ada ujungnya.

الله أكبر 3 x  و لله الحمد
Saudara-saudaraku sekalian, Jamaah Idul Adha yang Allah muliakan.

Karena itu, di tengah nestapa dan derita bangsa ini, juga dalam momen Idul Adha yang begitu syahdu tahun ini, marilah kita bertafakur dan merenung sejenak. Bayangkanlah sebentar saja. Sebuah peristiwa penting dan bersejarah sekitar 14 abad yang lewat. Peristiwa yang sarat makna. Dikenal dengan Haji Wada’.

Saat itu, di hadapan sekitar 140 ribu Muslim, seorang manusia yang amat mulia, penghulu seluruh umat manusia, menyampaikan pesan-pesan berharga, untuk kebahagiaan umat manusia. Dialah Baginda Rasulullah saw., manusia terpilih. Beliau mengawali khutbahnya:

  أَيُّهَا النَّاسُ، اِسْمِعُوْا قَوْلِي،  فَإِنِّي لَاَ أَدْرِي، لَعَلِيّ لَا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِي هَذَا، بِهَذَا الْمَوْقِفِ أَبَدًا.
Wahai manusia, dengarlah baik-baik kata-kataku ini. Sebab sungguh, aku tidak tahu, apakah aku bisa berjumpa lagi dengan kalian setelah tahun ini, di tempat ini, untuk selama-lamanya.
 Lalu beliau melanjutkan khutbahnya. Di antaranya beliau menyampaikan:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ  كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا... وَ إِنَّكُمْ سَتُلَقُوْنَ رَبَّكُمْ فَيَسْأَلُكُمْ عَنْ أَعْمَالِكُمْ … فَمَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ أَمَانةٌ فَلْيُؤَدِّها إِلَى مَنْ ائْتمَنَهُ عَلَيها، أَلَّا وَ إِنَّ كُلَّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَيْ مَوْضُوْعٌ وَ دِمَاءَ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوْعَةٌ …  وَ إِنَّ رِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوْعٌ
Wahai manusia, sungguh darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian sama sucinya dengan sucinya hari ini, negeri ini dan bulan ini…Sungguh kalian benar-benar akan menjumpai Tuhan kalian. Lalu kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kalian...Karena itu siapa saja yang memiliki amanah, tunaikanlah amanah itu kepada orang yang berhak menerimanya. Ingatlah, semua perkara Jahiliah sudah aku campakkan di bawah kedua telapak kakiku…Urusan (pertumpahan) darah Jahiliah juga sudah dihapus. Sungguh riba Jahiliah pun sudah dilenyapkan…

Berikutnya beliau menyampaikan banyak hal penting lainnya, antara lain sebagai berikut:

Wahai manusia, takutlah kalian kepada Allah dalam urusan kaum wanita. Sebab sungguh kalian telah mengambil mereka dengan amanah Allah. Kalian pun telah menghalalkan kehormatan mereka dengan kalimat-kalimat Allah. Karena itu nasihatilah kaum wanita dengan baik…

Wahai manusia…Sungguh aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian suatu perkara yang amat jelas. Jika kalian berpegang padanya, kalian tidak akan pernah tersesat selama-lamanya. Itulah Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.

Wahai manusia…Kalian sungguh paham bahwa setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain…

Wahai manusia, ingatlah, Tuhan kalian satu. Bapak kalian juga satu. Setiap kalian berasal dari Adam. Adam berasal dari tanah. Yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian. Ingatlah, tak ada keutamaan bangsa Arab atas bangsa non-Arab, kecuali karena ketakwaannya...

Ingatlah, hendaknya orang yang hadir dan menyaksikan menyampaikan pesan ini kepada yang tidak hadir. Sebab boleh jadi sebagian orang yang mendengarnya secara tidak langsung lebih paham daripada orang yang mendengarnya secara langsung.

Usai Baginda Nabi saw. menyampaikan Khutbah Wada’, turunlah firman Allah SWT:

 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الأسْلاَمَ دِيناً
Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagi kalian dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian (TQS Al-Maidah [5]: 3).

Demikianlah khutbah Baginda Nabi saw. sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ahmad. Sebuah khutbah yang amat menyentuh hati. Merasuk ke dalam kalbu. Menggugah jiwa. Sekaligus membangkitkan akal pikiran bagi siapa saja yang mau merenungkan.
.
الله أكبر 3 x  و لله الحمد
Saudara-saudaraku sekalian, Jamaah Idul Adha yang Allah muliakan.

Dari apa yang Baginda Nabi saw. sampaikan di atas, ada sejumlah hal yang beliau nasihatkan kepada kita, yang selayaknya kita renungkan dan sungguh-sungguh harus kita amalkan. Di antaranya:

Pertama, kita diperintahkan oleh beliau untuk menjaga darah, harta dan kehormatan sesama. Tak boleh saling menumpahkan darah. Haram saling merampas harta. Terlarang saling menodai kehormatan sesama. Ini sesuai dengan sabda beliau:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
Mencela seorang Muslim adalah kefasikan. Membunuh dirinya adalah kekufuran (HR al-Bukhari dan Muslim).

Kedua, kita diperintahkan oleh beliau untuk memberikan amanah kepada ahlinya. Termasuk amanah kepemimpinan. Ini sesuai dengan firman Allah SWT:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا...
Sungguh Allah telah memerintahkan kalian agar menunaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya… (TQS an-Nisa’ [4]: 58).

Tentang amanah kepemimpinan, Rasulullah saw. pun mengingatkan:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Sungguh kalian begitu berhasrat atas kepemimpinan (kekuasaan), padahal kepemimpinan (kekuasaan) itu bisa berubah menjadi penyesalan pada Hari Kiamat kelak (HR al-Bukhari).

Namun sayang, hari ini kita menyaksikan tontonan yang amat menyedihkan. Antar partai politik gontok-gontokan. Antar koalisi saling berebut kursi kekuasaan. Mereka tak sungkan saling sikut demi jabatan. Bahkan tak segan saling menjatuhkan. Sekadar demi meraih remah-remah dunia, yang ujungnya adalah penyesalan. Saat yang sama, nasib rakyat terlupakan. Bahkan seolah tak mereka pedulikan.

Ketiga, kita diperintahkan oleh beliau agar meninggalkan semua muamalah, tradisi, hukum dan sistem Jahiliah. Jelas, sejak Baginda Nabi saw. telah menuntaskan risalahnya, semua muamalah Jahiliah dikubur dalam-dalam. Semua tradisi Jahiliah dihapus. Semua hukum Jahiliah dibuang jauh-jauh. Semua sistem Jahiliah pun dilenyapkan. Sebab semua itu bertentangan dengan Islam. Ini sesuai dengan firman Allah SWT:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik dibandingkan dengan hukum Allah bagi kaum yakin? (TQS al-Maidah [5]: 50).

Di antara perkara Jahiliah yang telah dihapus oleh Rasulullah saw. yang karenanya wajib ditinggalkan adalah riba, dalam segala bentuknya.

Namun sayang, hari ini riba bukan saja merajalela. Riba bahkan telah menjadi pilar utama ekonomi negara. Tidak aneh jika utang luar negeri ribawi, dengan bunga sangat tinggi, berpeluang membangkrutkan negeri ini. Anehnya, kita terus mengabaikan nasihat Baginda Nabi saw. yang mulia ini. Padahal jelas, nasihat beliau untuk menjauhi riba lebih layak ditujukan kepada kita hari ini, daripada ditujukan kepada para Sahabat. Sebab pada masa para Sahabat, riba sudah sejak awal dicampakkan dan dibuang sejauh-jauhnya.

الله أكبر 3 x  و لله الحمد
Saudara-saudaraku sekalian, Jamaah Idul Adha yang Allah muliakan.

Keempat, kita diperintahkan oleh beliau untuk memuliakan kaum wanita (istri-istri) kita. Tak sepatutnya kita menyakiti hati mereka. Tak selayaknya kita menista mereka. Sebab mereka adalah sahabat kita, dalam suka dan duka. Dari rahim mereka pula kita berharap lahir generasi mulia. Generasi para kesatria.

Kelima, kita diingatkan oleh beliau untuk tidak merasa unggul dari bangsa dan umat lain. Sebab keunggulan manusia atas manusia lain di sisi Allah SWT hanya karena ketakwaannya. Demikian sebagaimana firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan telah menjadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa (TQS al-Hujurat [49]: 13).

Keenam, kita diharuskan oleh beliau untuk senantiasa memelihara tali persaudaraan dengan sesama kaum Muslim. Layaknya saudara, tak boleh saling mencerca. Haram saling mencederai. Terlarang saling mencaci-maki. Tercela jika sampai saling mem-bully. Apalagi saling mempersekusi. Beliau pun menegaskan:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ
Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain. Seorang Muslim tidak boleh menzalimi, merendahkan dan menghina saudaranya (HR Muslim).

Namun sayang, hari ini tali persaudaraan Islam seolah lenyap. Bahkan antarkelompok umat Islam bisa saling berhadap-hadapan. Asal berbeda mazhab, bisa saling bertindak tak beradab. Asal beda paham, bisa saling melemparkan tudingan. Asal beda organisasi, bisa saling mem-bully. Asal beda kepentingan, bisa saling menggunting dalam lipatan. Asal teriak “Saya Pancasila”, bisa seenaknya menista pihak yang berbeda. Asal melempar tudingan “radikal”, bisa dengan mudah melakukan tindakan di luar akal.

Di luar negeri, ikatan persaudaran Islam (ukhuwah islamiyah) pun seolah hilang ditelan zaman. Hari ini kaum Muslim tampak lebih mementingkan ego kebangsaan masing-masing. Mareka tak peduli pada kondisi saudaranya. Bahkan yang lebih ironis, beberapa negara Muslim seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab memberikan dukungan kepada Pemerintah Komunis Cina yang melakukan kezaliman terhadap umat Muslim di Xinjiang.

Padahal tegas Allah SWT telah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ...
Kaum Mukmin itu sesungguhnya bersaudara... (TQS al-Hujurat [49]: 10).

Rasul saw. pun bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا
Tolonglah saudaramu, baik yang zalim maupun terzalimi (HR al-Bukhari).

الله أكبر 3 x  و لله الحمد
Saudara-saudaraku sekalian, Jamaah Idul Adha yang Allah muliakan.

Ketujuh, kita pun diharuskan oleh beliau untuk selalu menyampaikan nasihat kepada orang lain. Sebab, kata Baginda Nabi saw., agama adalah nasihat. Di antara nasihat yang paling utama adalah nasihat yang ditujukan kepada penguasa. Agar mereka tidak terus dalam kesesatan. Agar mereka tidak terus dalam penyimpangan. Agar mereka tidak terus melakukan kezaliman. Kezaliman terbesar penguasa tidak lain saat mereka tidak menerapkan al-Quran. Saat mereka tidak menerapkan syariah Islam. Itulah yang Allah SWT tegaskan:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Siapa saja yang tidak memerintah dengan apa yang Allah turunkan (al-Quran), mereka itulah kaum zalim (QS al-Maidah [5]: 45).

Karena itu tugas kitalah, segenap komponen umat Islam, apalagi para ulama dan para da’inya, untuk terus mendorong penguasa agar memerintah dengan al-Quran. Agar mereka berhukum hanya dengan syariah Islam. Di seluruh bidang kehidupan: politik, pemerintahan, hukum, ekonomi, sosial, peradilan, pendidikan, dlsb.

Kedelapan, kita diwajibkan oleh beliau untuk selalu berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah. Baginda Nabi saw. telah menjamin. Siapapun yang istiqamah berpegang teguh pada keduanya, tak akan pernah tersesat selama-lamanya.

Namun sayang, apa yang dipesankan Baginda Nabi saw. 14 abad lalu, tak banyak diindahkan oleh kita hari ini. Al-Quran dan as-Sunnah tak lagi kita pedulikan. Kecuali sebatas bacaan. Isinya banyak kita abaikan. Hukum-hukumnya pun banyak kita campakkan.

Fakta hari ini berbicara. Banyak keharaman dihalalkan. Banyak pula perkara halal diharamkan. Tak jarang, semua itu dilegalkan oleh undang-undang. Lewat mekanisme demokrasi yang dibangga-banggakan.

Lihatlah. Bagaimana riba telah lama dihalalkan. Miras pun dilegalkan meski dibatasi peredarannya. Pelacuran dilokalisasi dengan alasan yang diada-adakan. Zina tak dipandang sebagai kejahatan. LGBT pun tak boleh dikriminalkan karena itu melanggar HAM.

Di sisi lain, syariah Islam seolah haram untuk diterapkan. Hanya karena satu tuduhan tak beralasan: bisa mengancam kebhinekaan. Institusi penerap syariah, yakni Khilafah, juga terlarang diperjuangkan. Bahkan tak boleh meski sekadar diwacanakan. Para aktivisnya mereka kriminalisasikan. Organisasinya mereka bubarkan. Dengan tuduhan yang diada-adakan. Padahal jelas, Khilafah adalah bagian penting dari ajaran Islam, yang wajib ditegakkan. Khilafah adalah salah satu warisan Rasulullah saw. Bahkan Khilafah pernah punya kaitan sejarah, juga kontribusi nyata, dalam penyebaran Islam melalui Wali Songo di Bumi Nusantara tercinta ini.

Saudara-saudaraku sekalian, Jamaah Idul Adha yang Allah muliakan.

Karena kita telah meninggalkan al-Quran dan as-Sunnah warisan Baginda Nabi saw., pantaslah jika saat ini, bangsa ini seperti tersesat jalan. Pantas pula negeri ini dirundung aneka persoalan. Tak pernah beranjak dari ragam kesengsaraan dan kesempitan. Mahabenar Allah SWT yang berfirman:

وَ مَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَ نَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَعْمَى
Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran) maka bagi dia kehidupan yang sempit dan Kami akan membangkitkan dia pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (TQS Thaha [20]: 124).

الله أكبر 3 x  و لله الحمد
Saudara-saudaraku sekalian, Jamaah Idul Adha yang Allah muliakan.

Sudah maklum. Selain Baginda Rasulullah saw. yang wajib kita amalkan seluruh ajarannya dan semua nasihatnya, ada sosok penting lain yang tak bisa dipisahkan dari momen ibadah haji dan Idul Adha. Dialah Nabiyullah Ibrahim as. Di dalam QS al-Shafat [37] ayat 102, Allah SWT mengisahkan. Bagaimana Ibrahim as., dengan sepenuh keimanan, tanpa sedikit pun keraguan, menunaikan perintah Tuhannya: menyembelih putra tercintanya, Ismail as. Demikianlah, kedua hamba Allah yang shalih itu tersungkur dalam kepasrahan. Berpadu dengan ketaatan dan kesabaran.

Kisah cinta yang amat romantis sekaligus dramatis ini selayaknya menjadi ibrah sepanjang zaman. Bagi seluruh umat Islam. Termasuk kita hari ini. Sebab bukankah Allah SWT pun telah berfirman:

لَنْ تَنَالُوْا الْبِرَّ حَتَى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ
Sekali-kali kalian tidak akan sampai pada kebajikan sebelum kalian menginfakkan harta (di jalan Allah) yang paling kalian cintai (TQS Ali Imran [3]: 92).

Nabiyullah Ibrahim as. telah membuktikan hal itu. Bukan hanya harta. Bahkan nyawa putra semata wayangnya—yang kepada dia tertumpah segenap cinta dan kasih sayangnya—ia persembahkan dengan penuh keyakinan kepada Allah. Zat Yang lebih ia cintai dari apapun.

Cinta, ketaatan dan pengorbanan Ibrahim kepada Allah SWT ini kemudian diteruskan secara sempurna. Bahkan dengan kadar yang istimewa. Oleh Baginda Rasulullah saw. Bukan hanya usia. Bukan hanya tenaga. Bukan hanya harta dan keluarga. Bahkan nyawa sekalipun beliau pertaruhkan demi tegaknya agama Allah SWT ini.

Cinta, ketaatan dan pengorbanan Rasulullah saw. ini lalu diwarisi oleh para Sahabat beliau. Juga generasi setelah mereka sepanjang masa Kekhilafahan Islam. Saat Khilafah mengemban Islam ke seluruh penjuru bumi. Atas jasa dan pengorbanan merekalah Islam bisa sampai ke berbagai negeri. Termasuk di Bumi Nusantara ini.

الله أكبر 3 x  و لله الحمد
Saudara-saudaraku sekalian, Jamaah Idul Adha yang Allah muliakan.

Karena itu dengan mengambil ibrah dan keteladanan berupa cinta, ketaatan dan pengorbanan Nabiyullah Ibrahim as. dan Baginda Rasulullah saw., mari kita raih pertolongan Allah SWT. Mari kita sambut kemenangan Islam. Mari kita songsong kembali masa depan cerah peradaban umat manusia di bawah naungan Khilafah Islam. Dengan meneladani cinta, ketaatan dan pengorbanan keduanya, insya Allah, Islam akan kembali jaya. Kaum Muslim akan kembali menjadi mulia. Tentu saat mereka hidup dalam naungan sistem Islam yang paripurna. Di bawah naungan ridha Allah SWT.

‘Ala kulli hal, demi terwujudnya seluruh harapan di atas, marilah kita sama-sama bersimpuh. Mari sama-sama menundukkan kepala. Mari sama-sama melembutkan hati. Bermunajat kepada Zat Yang Mahasuci.  Semoga Dia mengabulkan doa-doa kita yang benar-benar berasal dari lubuk hati.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَهْلِ بْيْتِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ، وَ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، وَ أَصْحَابِهِ الْكِرَامِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Ya Allah, Tuhan kami. Inilah hari yang penuh berkah dan keberuntungan. Hari ini berkumpul kaum Muslim. Memenuhi sudut-sudut bumi-Mu. Hadir di antara mereka pemohon, peminta dan perindu.

Ya Allah, sekiranya pada hari ini, Engkau hanya menerima tobat orang-orang yang berserah diri dan mengakui segala dosanya, maka demi keagungan-Mu, kami berserah diri dan mengakui segala dosa kami.

Ya Allah, ya Tuhan kami. Jadikanlah ibadah haji saudara-saudara kami di Tanah Suci, haji yang mabrur, sai yang maqbul, dosa yang diampuni, amal shalih yang diterima dan usaha yang tak akan pernah merugi.

Ya Allah, angkatlah cobaan-Mu atas penduduk negeri ini. Selamatkan kami dari azab yang pedih, yang Engkau turunkan dari atas kami, atau dari bawah kami, atau dengan perpecahan di antara kami.

Ya Allah, persatukanlah hati-hati kami. Perbaikilah keadaan kami. Tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan. Entaskanlah kami dari aneka kejahatan. Yang tampak maupun tersembunyi. Berkatilah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami dan hati-hati kami. Berkatilah istri-istri kami, anak-anak kami dan keluarga kami.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً، وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ بَصِّرْنَا بِدِيْنِكَ، وَوَفِّقْنَا لِاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَأَعِذْنَا مِنَ الْفِتَنِ كُلِّهَا، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ إِنَّكَ  أَنْتَ السَمِيْعُ الْعَلِيْم .
اَلَّلهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ أَصْلِحْ لَناَ دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
الَّلهُمَّ ارْزُقْنَا تَوْبةً قَبْلَ اْلَمْوتِ، وَ شَهَادَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَ رِضْوَانَكَ وَ الْجَنَّةَ بَعْدَ الْمَوْتِ.
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الأَخِرَةِ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَنَا وَ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ وَ قَتَلَ  اْلمُؤْمِنِيْنَ، يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمِهِمْ، وَ زَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الظّالِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَ مَنْ نَصَرَ الإِسْلاَمَ وَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

الله أكبر 3 x  و لله الحمد.

---------
عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ، وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ، وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.
و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته.
Share:

PENERIMAAN SANTRI BARU TP 2019/2020


Program Penerimaan Santri Baru:
  1. Kami Menerima Santri MTS/SMP dan MA/SMA
  2. Jumlah Santri 25 s.d. 30 Orang
  3. Program Tahfidz, Dakwah, dan Kitab Salaf
  4. Biaya Tiap Bulan Rp 750.000,- 
  5. Infaq Sekali Rp 1.500.000,-
Syarat-Syarat Pendaftaran:
  1. Lulus SD/MI atau SMP/MTS 
  2. Foto Kopi Ijazah (Surat Keterangan Lulus)
  3. Foto Kopi KK dan KTP Orang Tua 
  4. Pas Foto 2X3 dan 3X4 (2 Lembar)
  5. Mengisi Formulir Pendaftaran Santri Baru.
Tempat dan Waktu Pendaftaran:
Pesantren Al-Irsyadiyah
Desa Cibeuteung Udik - Kec. Ciseeng
Kabupaten Bogor - Jawa Barat 16330
Website: http://alirsyadiyah.org
E-mail: admin@alirsyadiyah.org

Setiap Hari Kerja Jam 08:00 WIB - 15:00 WIB

Share:

PENDIDIKAN DALAM AL-QUR'AN 2


          Demikian banyak dan beragam istilah “pendidikan” dalam Al-Qur’an.  Dalam konteks ini, Penulis akan memaparkan beberapa istilah pendidikan seperti : tarbiyah, ta’lim dan ta’dib:
a. Istilah Tarbiyah
          Istilah tarbiyah merupakan terjemahan dari istilah latin educare dan educatio yang bahasa inggrisnya educate dan education. Konotasi kata ini menurut Naquib al-Attas (1996: 64-65) yaitu menghasilkan, mengembangkan dari kepribadian   yang   tersembunyi   atau   potensial   yang   di   dalam   proses menghasilkan dan mengembangkan itu mengacu kepada segala sesuatu yang bersifat fisik dan material. Atau kalau toh dalam istilah educatio maupun education ada pula pembinaan intelektual dan moral, sumber pelaksanaannya bukanlah wahyu, melainkan semata-mata hasil spekulasi filosofis tentang etika yang disesuaikan dengan tujuan fisik material orang-orang sekuler.
             Kata al-Rab (bentuk ma'rifah dengan alif dan lam) hanya digunakan untuk Allah SWT. Dialah Rab (pemilik) segala sesuatu. Apabila digunakan untuk selain Allah SWT biasanya bentuk idhafah, seperti ungkapan Fulan Rab al-Bait (Fulan adalah pemilik rumah itu) . Makna dasar istilah-istilah tersebut (rab, rabiya dan rabba) tidak secara  alami   mengandung   unsur-unsur   esensial   pengetahuan,   inteligensi   dan kebijakan, yang pada hakikatnya merupakan unsur-unsur pendidikan sebenarnya. Menurut Al-Jauhari kata tarbiyah dan beberapa bentuk lainnya sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Asma'i berarti memberi makan, memelihara, mengasuh; yakni dari kata ghadza-yaghdzu. Makna ini mengacu kepada segala sesuatu yang tumbuh seperti anak-anak, tanaman, dan sebagainya (Ibn Manzur, 1990, I, : 399-400).
        Kelompok yang mendukung penggunaan istilah tarbiyah mengguanakan ayat-ayat al-Qur'an untuk mendukung penggunaan istilah tersebut bagi pendidikan Islam. Ayat-ayat tersebut antara lain yaitu:  Surat  al-Isra'  ayat  24  yang  terjemahannya  sebagai  berikut:  "…  dan ucapkanlah, "Wahai tuhanku kasihilah mereka keduanya sebagimana mereka berdua telah mengasihi aku waktu kecil"
Surat al-Syu'ara' ayat 18 yang terjemahannya sebagai berikut: "Fir'aun menjawab, "Bukankah  kami yang telah  mengasuhmu di dalam (keluarga) kami waktu kamu masih kank-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu…".
            Sehubungan   dengan   ayat   Al-Qur'an   yang   dikemukakan   di   atas, Muhammad al-Naquib al-Attas (1996: 70) menjelaskan bahwa kata "rabbayani" di situ beremakna rahmah, yaitu ampunan atau kasih sayang. Istilah itu mempunyai arti pemberian makna dan kasih sayang, pakaian dan tempat berteduh serta perawatan; pendeknya pemeliharaan yang diberikan oleh orang tua kepada anak-ankanya.
            Oleh sebab itu, ketika Fir'aun berkata kepada Nabi Musa: "alam nurabbika fina walida"   (Al-Syu’ara :18),  kita tidak diharapkan untuk menyimpulkan bahwa dengan demikian Fir'aun telah "mendidik" Nabi, meskipun kenyataannya Fir'aun, dengan menggunakan ungkapan nurabbika, memang melakukan "tarbiyah" atas Nabi Musa as. Tarbiyah, secara sederhana, berarti membesarkan, tanpa meski mencakup penanaman pengetahuan dalam proses itu.
          Apabila dikatakan bahwa suatu makna yang berhubungan dengan pengetahuan bisa disusupkan dalam konsep rabba, maka makna tersebut mengacu  kepada  pemilikan  pengetahuan  dan  bukan  pada  proses penanamannya. Oleh karenanya, hal itu tidak mengacu pada pendidikan dalam arti yang kita maksudkan, seperti adanya istilah rabbaniy yang diberikan bagi orang-orang bijaksana yang terpelajar dalam bidang pengetahuan tentang al- Rabb.  Ibn Mandzur mencatat bahwa al-Hanafiyah telah menyebut Ibn Abbas sebagai rabbaniy ummat, sebagimana Ali ibn Abi Thalib juga membagi manusia pada tiga tingkatan dan tingkatan yang pertama adalah 'alim rabbaniy.  Dan Ali sendiri pernah menyebut dirinya sebagai rabbaniy-nya umat ini  (al-Ashfahaniy, 1997 : 337)
       Sejalan dengan al-Attas, Abdul Fattah jalal, ahli pendidikan Universitas al-Azhar, juga  menjelaskan  bahwa  yang  dimaksud  tarbiyah di  dalam  surat  al- Isra:24 dan al-Syura :18 di atas adalah pendidikan yang berlangsung pada fase bayi dan kanak-kanak masa anak masih sangat bergantuang pada pemeliharaan bergantung kepada kasih sayang kedua orang tuanya. Dengan demikian pengertian pendidikan yang digali dari kata tarbiyah terbatas pada pemeliharaan dan pengasihan anak manusia pada masa kecil. Oleh karen itu pula bimbingan dan penyuluhan yang diberikan sesudah masa itu tidak lagi termasuk dalam pengertian pendidikan (Heri Noer Ali, 1999:6).
b. Istilah Ta’lim
               Istilah lain yang digunakan untuk menunjuk konsep pendidikan dalam Islam adalah ta'lim. Menurut Abdul Fattah Jalal konsep-konsep pendidikan yang terkandung di dalamnya adalah sebagai berikut:
Pertama, ta'lim adalah proses pembelajaran terus menerus sejak manusia lahir melalui pengembanagn fungsi-fungsi pendengaran,  penglihatan dan hati. Pengertian  ini  digali  dari  firman  Allah  SWT  yang  terjemahannya  sebagai berikut: "Dan  Allah  mengeluarkan  kamu  dari  perut  ibumu  dalam  keadaan  tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur." (Q.S. al-Nahl:78). Pengembanagn fungsi-fungsi tersebut merupakan tanggung jawab orang tua ketika anak masih kecil. Setelah dewasa, hendaknya orang belajar secara mandiri sampai ia tidak mampu lagi meneruskan belajarnya, baik karena meninggal atau karena usia tua renta.
Kedua, proses ta'lim tidak berhenti pada pencapaian pengetahuan dalam domain kognisi semata, tetapi terus menjangkau wilayah psikomotor dan afeksi. Pengetahuan yang hanya sampai pada batas-batas wilayah kognisi tidak akan mendorong seorang untuk mengamalkannya, dan pengetahuan semacam itu biasanya diperoleh atas dasar prasangka atau taklid. Padahal al-Qur'an sangat mengecam orang yang hanya memiliki pengetahuan semacam ini.
          Ruang lingkup pengertian ta'lim yang tidak terbatas pada aspek kognisi saja. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT surat Al-Baqarah ayar 151 "…Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul di antara kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kamu al-Kitab dan al-Hikmah, serta mengajarkan kamu apa yang belum kamu ketahui" . Berdasarkan  ayat  tersebut,  pendidikan  tilawah  al-Qur'an  tidak  terbatas pada kemampuan membaca harfiah, tetapi lebih luas darti itu adalah membaca dengan perenungan yang sarat dengan pemahaman dan pada gilirannya melahirkan tanggung jawab moral terhadap ilmu yang diperoleh melalui bacaan itu. Melalui pendidikan semacam ini Rasulullah telah mengantarkan para sahabatnya untuk mencapai tingkat tazkiyah (proses penyucian diri) yang membuat mereka berada pada kondisi siap untuk mencapai tingkat al-hikmah. Pada tingkat terakhir ini, ilmu, perkataan, dan perilaku seseorang telah terintegrasi dalam membentuk kepribadian yang kokoh (Heri Noer Ali,   1999 : 8-9).
c. Ta’dib
           Istilah ketiga yang digunakan untuk menunjukkan kepada pendidikan adalah adab. Arti dasar istilah ini yaitu   "undangan kepada suatu perjamuan" Ibn  Mandzur  (1990 : 206) juga  menyebutkan  ungkapan  "addabahu  fataaddaba"  berarti allamahu (mendidiknya). 
     Sejalan dengan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Mas'ud: "Al-Qur'an ini adalah undangan/perjamuan (ma'dibah) Allah SWT di muka bumi, maka pelajarilah (santaplah) hidangan tersebut". Qur'an suci adalah undangan Tuhan kepada suatu perjamuan ruhaniyah, dan pencapaian ilmu yang benar tentangnya berarti memakan makanan yang baik di dalamnya. Pendidikan menurut al-Attas, dalam kenyataannya adalah ta'dib karena adab sebagimana didefenisikan di atas sudah mencakup ilmu dan amal sekaligus. Keterkaitan konseptual kedua istilah itu, 'ilm dan adab, di dalam hadis lain   langsung mengisyaratkan identitas antara adab dan ilmu. "Addabani Rabbi fa ahsana ta'dibi" (Tuhanku telah mendidikku dan dengan demikian menjadilah pendidikanku yang terbaik).
              Di dalam hadis ini secara eksplisit digunakan istilah ta'dib (yang diartikan pendidikan) dari kata addaba yang berarti mendidik. Kata ini, menurut al- Zajjaj, dikatakan sebagai cara Tuhan mendidik Nabi-Nya,   (Ibnu Mandzur, 1990: 202) tentu saja mengandung konsep pendidikan yang sempurna.
              Dengan penjelasan di atas al-Attas selanjutnya menguraikan pengertian hadis   ini   sebagai   berikut:   "Tuhanku   telah   membuatku   mengenali   dan mengakui, dengan apa (yaitu adab) yang secara berangsur-angsur telah ditanamkan ke dalam diriku, tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam penciptaan, sehingga hal itu membmbingku ke arah pengenalan dan pengakuan tempat-Nya yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian dan sebagai akibatnya, Ia telah membuat pendidikanku yang paling baik". Sehingga, dengan demikian tidak perlu ada keraguan bahwa konsep dan proses pendidikan telah tercakup di dalam istilah ta'dib dan bahwa istilah yang tepat untuk menunjukkan "pendidikan" di dalam Islam sudah cukup terungkapkan olehnya. 

Oleh : M Abduh Almanar

Share:

Chat Langsung dengan Kami Via WA

Ekskul - Tim Paskibra Al-Irsyadiyah

Postingan Terpopular