PENDIDIKAN DALAM AL-QUR'AN 2


          Demikian banyak dan beragam istilah “pendidikan” dalam Al-Qur’an.  Dalam konteks ini, Penulis akan memaparkan beberapa istilah pendidikan seperti : tarbiyah, ta’lim dan ta’dib:
a. Istilah Tarbiyah
          Istilah tarbiyah merupakan terjemahan dari istilah latin educare dan educatio yang bahasa inggrisnya educate dan education. Konotasi kata ini menurut Naquib al-Attas (1996: 64-65) yaitu menghasilkan, mengembangkan dari kepribadian   yang   tersembunyi   atau   potensial   yang   di   dalam   proses menghasilkan dan mengembangkan itu mengacu kepada segala sesuatu yang bersifat fisik dan material. Atau kalau toh dalam istilah educatio maupun education ada pula pembinaan intelektual dan moral, sumber pelaksanaannya bukanlah wahyu, melainkan semata-mata hasil spekulasi filosofis tentang etika yang disesuaikan dengan tujuan fisik material orang-orang sekuler.
             Kata al-Rab (bentuk ma'rifah dengan alif dan lam) hanya digunakan untuk Allah SWT. Dialah Rab (pemilik) segala sesuatu. Apabila digunakan untuk selain Allah SWT biasanya bentuk idhafah, seperti ungkapan Fulan Rab al-Bait (Fulan adalah pemilik rumah itu) . Makna dasar istilah-istilah tersebut (rab, rabiya dan rabba) tidak secara  alami   mengandung   unsur-unsur   esensial   pengetahuan,   inteligensi   dan kebijakan, yang pada hakikatnya merupakan unsur-unsur pendidikan sebenarnya. Menurut Al-Jauhari kata tarbiyah dan beberapa bentuk lainnya sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Asma'i berarti memberi makan, memelihara, mengasuh; yakni dari kata ghadza-yaghdzu. Makna ini mengacu kepada segala sesuatu yang tumbuh seperti anak-anak, tanaman, dan sebagainya (Ibn Manzur, 1990, I, : 399-400).
        Kelompok yang mendukung penggunaan istilah tarbiyah mengguanakan ayat-ayat al-Qur'an untuk mendukung penggunaan istilah tersebut bagi pendidikan Islam. Ayat-ayat tersebut antara lain yaitu:  Surat  al-Isra'  ayat  24  yang  terjemahannya  sebagai  berikut:  "…  dan ucapkanlah, "Wahai tuhanku kasihilah mereka keduanya sebagimana mereka berdua telah mengasihi aku waktu kecil"
Surat al-Syu'ara' ayat 18 yang terjemahannya sebagai berikut: "Fir'aun menjawab, "Bukankah  kami yang telah  mengasuhmu di dalam (keluarga) kami waktu kamu masih kank-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu…".
            Sehubungan   dengan   ayat   Al-Qur'an   yang   dikemukakan   di   atas, Muhammad al-Naquib al-Attas (1996: 70) menjelaskan bahwa kata "rabbayani" di situ beremakna rahmah, yaitu ampunan atau kasih sayang. Istilah itu mempunyai arti pemberian makna dan kasih sayang, pakaian dan tempat berteduh serta perawatan; pendeknya pemeliharaan yang diberikan oleh orang tua kepada anak-ankanya.
            Oleh sebab itu, ketika Fir'aun berkata kepada Nabi Musa: "alam nurabbika fina walida"   (Al-Syu’ara :18),  kita tidak diharapkan untuk menyimpulkan bahwa dengan demikian Fir'aun telah "mendidik" Nabi, meskipun kenyataannya Fir'aun, dengan menggunakan ungkapan nurabbika, memang melakukan "tarbiyah" atas Nabi Musa as. Tarbiyah, secara sederhana, berarti membesarkan, tanpa meski mencakup penanaman pengetahuan dalam proses itu.
          Apabila dikatakan bahwa suatu makna yang berhubungan dengan pengetahuan bisa disusupkan dalam konsep rabba, maka makna tersebut mengacu  kepada  pemilikan  pengetahuan  dan  bukan  pada  proses penanamannya. Oleh karenanya, hal itu tidak mengacu pada pendidikan dalam arti yang kita maksudkan, seperti adanya istilah rabbaniy yang diberikan bagi orang-orang bijaksana yang terpelajar dalam bidang pengetahuan tentang al- Rabb.  Ibn Mandzur mencatat bahwa al-Hanafiyah telah menyebut Ibn Abbas sebagai rabbaniy ummat, sebagimana Ali ibn Abi Thalib juga membagi manusia pada tiga tingkatan dan tingkatan yang pertama adalah 'alim rabbaniy.  Dan Ali sendiri pernah menyebut dirinya sebagai rabbaniy-nya umat ini  (al-Ashfahaniy, 1997 : 337)
       Sejalan dengan al-Attas, Abdul Fattah jalal, ahli pendidikan Universitas al-Azhar, juga  menjelaskan  bahwa  yang  dimaksud  tarbiyah di  dalam  surat  al- Isra:24 dan al-Syura :18 di atas adalah pendidikan yang berlangsung pada fase bayi dan kanak-kanak masa anak masih sangat bergantuang pada pemeliharaan bergantung kepada kasih sayang kedua orang tuanya. Dengan demikian pengertian pendidikan yang digali dari kata tarbiyah terbatas pada pemeliharaan dan pengasihan anak manusia pada masa kecil. Oleh karen itu pula bimbingan dan penyuluhan yang diberikan sesudah masa itu tidak lagi termasuk dalam pengertian pendidikan (Heri Noer Ali, 1999:6).
b. Istilah Ta’lim
               Istilah lain yang digunakan untuk menunjuk konsep pendidikan dalam Islam adalah ta'lim. Menurut Abdul Fattah Jalal konsep-konsep pendidikan yang terkandung di dalamnya adalah sebagai berikut:
Pertama, ta'lim adalah proses pembelajaran terus menerus sejak manusia lahir melalui pengembanagn fungsi-fungsi pendengaran,  penglihatan dan hati. Pengertian  ini  digali  dari  firman  Allah  SWT  yang  terjemahannya  sebagai berikut: "Dan  Allah  mengeluarkan  kamu  dari  perut  ibumu  dalam  keadaan  tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur." (Q.S. al-Nahl:78). Pengembanagn fungsi-fungsi tersebut merupakan tanggung jawab orang tua ketika anak masih kecil. Setelah dewasa, hendaknya orang belajar secara mandiri sampai ia tidak mampu lagi meneruskan belajarnya, baik karena meninggal atau karena usia tua renta.
Kedua, proses ta'lim tidak berhenti pada pencapaian pengetahuan dalam domain kognisi semata, tetapi terus menjangkau wilayah psikomotor dan afeksi. Pengetahuan yang hanya sampai pada batas-batas wilayah kognisi tidak akan mendorong seorang untuk mengamalkannya, dan pengetahuan semacam itu biasanya diperoleh atas dasar prasangka atau taklid. Padahal al-Qur'an sangat mengecam orang yang hanya memiliki pengetahuan semacam ini.
          Ruang lingkup pengertian ta'lim yang tidak terbatas pada aspek kognisi saja. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT surat Al-Baqarah ayar 151 "…Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul di antara kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kamu al-Kitab dan al-Hikmah, serta mengajarkan kamu apa yang belum kamu ketahui" . Berdasarkan  ayat  tersebut,  pendidikan  tilawah  al-Qur'an  tidak  terbatas pada kemampuan membaca harfiah, tetapi lebih luas darti itu adalah membaca dengan perenungan yang sarat dengan pemahaman dan pada gilirannya melahirkan tanggung jawab moral terhadap ilmu yang diperoleh melalui bacaan itu. Melalui pendidikan semacam ini Rasulullah telah mengantarkan para sahabatnya untuk mencapai tingkat tazkiyah (proses penyucian diri) yang membuat mereka berada pada kondisi siap untuk mencapai tingkat al-hikmah. Pada tingkat terakhir ini, ilmu, perkataan, dan perilaku seseorang telah terintegrasi dalam membentuk kepribadian yang kokoh (Heri Noer Ali,   1999 : 8-9).
c. Ta’dib
           Istilah ketiga yang digunakan untuk menunjukkan kepada pendidikan adalah adab. Arti dasar istilah ini yaitu   "undangan kepada suatu perjamuan" Ibn  Mandzur  (1990 : 206) juga  menyebutkan  ungkapan  "addabahu  fataaddaba"  berarti allamahu (mendidiknya). 
     Sejalan dengan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Mas'ud: "Al-Qur'an ini adalah undangan/perjamuan (ma'dibah) Allah SWT di muka bumi, maka pelajarilah (santaplah) hidangan tersebut". Qur'an suci adalah undangan Tuhan kepada suatu perjamuan ruhaniyah, dan pencapaian ilmu yang benar tentangnya berarti memakan makanan yang baik di dalamnya. Pendidikan menurut al-Attas, dalam kenyataannya adalah ta'dib karena adab sebagimana didefenisikan di atas sudah mencakup ilmu dan amal sekaligus. Keterkaitan konseptual kedua istilah itu, 'ilm dan adab, di dalam hadis lain   langsung mengisyaratkan identitas antara adab dan ilmu. "Addabani Rabbi fa ahsana ta'dibi" (Tuhanku telah mendidikku dan dengan demikian menjadilah pendidikanku yang terbaik).
              Di dalam hadis ini secara eksplisit digunakan istilah ta'dib (yang diartikan pendidikan) dari kata addaba yang berarti mendidik. Kata ini, menurut al- Zajjaj, dikatakan sebagai cara Tuhan mendidik Nabi-Nya,   (Ibnu Mandzur, 1990: 202) tentu saja mengandung konsep pendidikan yang sempurna.
              Dengan penjelasan di atas al-Attas selanjutnya menguraikan pengertian hadis   ini   sebagai   berikut:   "Tuhanku   telah   membuatku   mengenali   dan mengakui, dengan apa (yaitu adab) yang secara berangsur-angsur telah ditanamkan ke dalam diriku, tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam penciptaan, sehingga hal itu membmbingku ke arah pengenalan dan pengakuan tempat-Nya yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian dan sebagai akibatnya, Ia telah membuat pendidikanku yang paling baik". Sehingga, dengan demikian tidak perlu ada keraguan bahwa konsep dan proses pendidikan telah tercakup di dalam istilah ta'dib dan bahwa istilah yang tepat untuk menunjukkan "pendidikan" di dalam Islam sudah cukup terungkapkan olehnya. 

Oleh : M Abduh Almanar

Share:

No comments:

Post a Comment

Chat Langsung dengan Kami Via WA

Ekskul - Tim Paskibra Al-Irsyadiyah

Postingan Terpopular